|
|
Kendi
Asia adalah suatu daerah yang terkenal untuk penghasilan keramik.
Di antara semua negara yang masuk daerah ini negara-negara yang
paling terkenal adalah Cina, Korea, dan Japan. Walaupun begitu,
Asia Tenggara pula ada banyak jenis keramik yang enak dilihati
dan digunakan, baik porselin, maupun gerabah. Perumpamaan dan
legenda mengelilingi dan mengikuti kerajinan keramik dan perbuatannya.
Sejarah seluruahnya terpenuh dengan cerita-cerita tentang tukan
keramik. Kadang-kadang pun tukan keramik diangkap sebagai pendeta,
atau pendeti yang punya bakti dari dunia halus. Ataupun juga,
kalau tak ada leganda mengenai tukangnya sering ada percayaan
pada beberapa bentuknya keramik.
Di seluruh Nusantara Indonesia ada macam-macam keramik dan masyarakat
yang bikinnya. Kendi-kendi adalah suatu wadah air yang dibikin
diseluruh Asia Tenggara. Indonesia ada macam-macam kendi baik
yang asli maupun yang asing. Pendapat umumnya terletak sumur kendi
di India. Kata kendi berasal dari kata kundi yang mana berasal
lagi dari Bahasa Sanskreta kundika. Kundika cuma berarti wadah
air. (Adhyatman 5) Dikelilingi wadah air kendi ada berjenis-jenis
legenda dan percayaan. Dalam iconograpi Hindu, kundika sering
dilihat sama Siwa atau Brahmana, dua dewa terbesar dalam agama
Hindu. Dalam agama Buddha kundika diangkap sebagai salah satu
wadah suci di antara delapan belas wadah suci dipunyai oleh biksunya.
Seluruh Asia Tenggara pernah menguna dan membuat wadah kendi:
Thailand, Malaysia, Indonesia, dan seluruhnya. Walaupun begitu,
Cina, suatu negara yang terpengaruh dalam dunia keramik, tak pernah
menguna wadah kendi air minum. Cina cuma membuat kendi untuk ekspor.
Sebenarnya pun, kendi ada pertama bahan keramik yang bikin di
Cina hanya untuk perdagangan di luar negrinya. Cina, benar-benar,
adalah suatu gayaan pada lapangan keramik di mana-mana, mungkin
oleh karena itu, dan ahili perdaganganya, wadah kendi menjadi
terpopular wadah air minum di seluruh Asia Tenggara.
Kendi muncul di mana-mana dengan macam-macam bentuknya. Biasanya
kendi menyesuaikan pada gunanya yang diperlu oleh masyarakat yang
dibikinnya. Pada umumnya kendi tak ada pegangannya tapi sering
punya corot. Biasanya bentuk kendi yang bercorot satu adalah bentuk
kendi yang paling sering dibuat di Indonesia. Ada kendi yang dibikin
untuk wada air minum saja, juga ada kendi yang suci, yang dibikin
buat upacara. Selain itu ada kendi yang bercorot-corot sebanyak
lima corot, ada kendi tinggi, besar, pendek dan gemuk. Semua kendi
ada pergunaan khas untuk daerahnya yang aslinya.
Sebelum sejarah, sebelum gerabah mulai diguna oleh manusia, buah
labu sering dipakai sebagai wadah air minum. Sesudah manusia ketemu
caranya bikin keramik, wadah keramik sering dimiripi buah labu.
Di Indonesia kendi buah labu masih dibikin di beberapa tempat,
yaitu Gayo, Aceh, dan beberapa dearah terpencil di Sulawesi yang
masih bikin kendi berbentuk labu kuning.
Kendi maling, yang berasal dari propinsi Mayong, Pati, agak aneh.
Kendi ini harus dipenuhi lewat bawahnya, tidak lewat atasnya.
Bentuk ini ada corong tersembunyi, dan biasanya ada dua corot
yang salah. Kendi maling hampir tak pernah gunanya di luar upacara.
Selain Mayong, Pati, kendi parnah dibuat di Bali, dan di Lombok
pula.
Kendi teraneh dibuat di Palembang bercorot sebanyak lima corot,
dan semuanya bisa dipakai. Daerah Palembang pula menginovasikan
bentuk zoomorphic. Kendi ini mirip binatang berjenis-jenis seperti
burung dan cecak.
Jenis kendi paling luas ubahnya adalah kendi bulat. Kendi bulat
dapat bentuk baik tinggi, dan pendek, maupun bulat sempurna, dan
bulat salah. Kadang-kadan juga, kendi bulat berkaki tiga atau
empat, tinggi atau pendek. Kebanyakan keramik dibuat di Indonesia
masuk kelompok gerabah tampa gelasir dibanding porselin. Biarpun
begitu, dalam masa Majapahit keramik perselin mulai didapat. Porselin
ini tidak banyak berubah bentukan dari yang tradisional, dan mulai
oleh dorongan Belanda.
Kendi sebagai wadah minum adalah suatu potong penting dalam kebudayan
materi Indonesia. Sering dipenuhi dan dilatak didapan ruamahnya
sebagai suatu persembahan pada orang pergian yang lewat rumah
itu, dan membuktikan kesukaan menjamu yang tiadak terceraikan
dari kebudayaan orang Indonesia. Masa kini pun persembahan sepertinya
masih biasa dan sering didapat di mana-mana.
Pergunaan lainnya, kendi sering dipakai untuk pemberian obat minum
pada orang yang tidak bisa duduk. Kadang-kadang kendi yang dibentuk
butuh lelaki dipercayai dipunya gaya bakti. Kendi pula sering
dipakai dalam upacara-upacara seperti perkawinan dan pelantikan.
Air minum seger yang berisi dalam wadah kendi menyatakan pernikahan
sempurna. Di Jawa barat kakinya pengatin laki-laki dicuci oleh
pengantin perumpuan dengan air dari kendi suci. Setalahnya pengantin
laki-laki dipecahkannya untuk melembangkan kesetiaan isterinya
kepadanya. Diguna dalam pelantikan juga kendi yang penuh sering
dipecahkan menyerminkan dipecahkan wadah anggur suatu tradisi
barat.
Kendi susu bermode susu peremupan adalah suatu metafora pada susu
ibu yang melindungi hidupan, dan menyatakan kepentingan tokoh
ibu dalam kebudayan Indonesia. Dalam semacam tarian Jawa Tengah
bernama Tari Bondan seorang gadis kecil menari di atas sewadah
kendi dengan hati-hati supaya wadahnya tidak pecah. Tari ini melembangkan
kepentingan asuhan lembut dari ibu yang masih punya anak kecil.
Kemudiannya, kendi dapat fungsi sebagai kapal yang dapat mengankutan
kenilaian budaya dari satu generasi ke generasi yang berikut,
dan memperkuatkan tradisi.
Dalam adat propinsi Lampung ada upacara pernikahan bahwa pengantinnya
membawa sebatang tombak diantaranya. Dari tombaknya bergantung
sewadah kendi, tebu, padi, dan barang kelembangan lain. Dua-duanya
membawa tombaknya dan semua barang ke sungainya. Disitu mereka
mengisi kendinya dan memandikan satu dengan yang lain. Upacara
ini dipercayai bahwa itu akan membawa ketenangan pada perkawinannya
dalam tahun-tahun yang akan datang lewat air segar yang dapat
dari kendinya. Juga ada kepercayaan bahwa air dari kendinya akan
mempertinggi kesuburan pengantin perempuan. Kendi Pratolo terkenal
untuk kemampuan kemempertinggian kesuburan. Cerita berikut adalah
satu legenda mengenai gaya kesuburan mempertalikan pada kendi-kendi:
Seorang perempuan yang berjalan-jalan di hutan lihat sewadah kendi
dibawa sebatang pohon besar. Sedangkannya dia haus, jadi dia minum
dari kendinya. Airnya enak dan merasa seperti miniman para dewa.
Perempuannya pulang, dan membawa kendinya, akan tepapi sebentar
kemudian dia jadi hamil. Keluarganya tidak mempercayai bahwa dia
cuma minum air dari kendi yang dibawanya, akibatnya mereka menyuruh
dia pergi. Dia melahirkan satu anak laki-laki tergantang. Walaupun
perempuannya hampir tidak menyelamatkan kelahirannya bayi tak
kurang bergizi karena setiap kali ibunya minum dari kendinya susunya
terisi dengan susu tergizi. (Kartiwa 13 trans. penulis)
Tambah itu ada banyak legenda yang mempertalikan kesuburan pada
kendinya, dan Pratolo kendi meliputi Jawa sebagai kelembangan
kesuburan khas suku. Kita dapat tahu bahwa kendi, dengan sejarah
panjang sampai India kuna, dan dengan kepentingan dalam agama
Hindu dan agama Buddha, adalah satu barang penting dalam kebudayaan
Indonesia. Kendi dipakai di seluruh Asia Tenggara, sampai sejauh
Arabia dimana kendi diadaptasikan untuk rokok secara hooka.
Kelembangan kesuburan kuna yang mempertalikan pada kundika telah
meliputi kebudayaan Indonesia dan membawakan pengertian tertinggi
untuk barang sebiasa kendi yang dipakai sehari-hari. Kendi fungsi
sebagai suatu yang penting dalam kebudayaan materi Indonesia,
dan membantu menyatukan unsur antarbudaya di seluruh Nusantara
Indonesia.
Bibliography
Adyatman, Sumarah Keramik Mutakhir Bergaya Antik, The Ceramic
Society of Indonesia, 1983.
Adyatman, Sumarah Kendi, The Ceramic Society of Indonesia, 1987.
Kartiwa, Suwati, Dra. The Role of Pottery in Our Live, Museum
Pusat, 1977.
Yudhoseputro, Wiyoso Album Keramik Tradisional, Ministry of Education
and Culture, 1984.
|
|