Indo 402 School
Kendi

Asia adalah suatu daerah yang terkenal untuk penghasilan keramik. Di antara semua negara yang masuk daerah ini negara-negara yang paling terkenal adalah Cina, Korea, dan Japan. Walaupun begitu, Asia Tenggara pula ada banyak jenis keramik yang enak dilihati dan digunakan, baik porselin, maupun gerabah. Perumpamaan dan legenda mengelilingi dan mengikuti kerajinan keramik dan perbuatannya. Sejarah seluruahnya terpenuh dengan cerita-cerita tentang tukan keramik. Kadang-kadang pun tukan keramik diangkap sebagai pendeta, atau pendeti yang punya bakti dari dunia halus. Ataupun juga, kalau tak ada leganda mengenai tukangnya sering ada percayaan pada beberapa bentuknya keramik.

Di seluruh Nusantara Indonesia ada macam-macam keramik dan masyarakat yang bikinnya. Kendi-kendi adalah suatu wadah air yang dibikin diseluruh Asia Tenggara. Indonesia ada macam-macam kendi baik yang asli maupun yang asing. Pendapat umumnya terletak sumur kendi di India. Kata ‘kendi’ berasal dari kata ‘kundi’ yang mana berasal lagi dari Bahasa Sanskreta ‘kundika’. Kundika cuma berarti wadah air. (Adhyatman 5) Dikelilingi wadah air kendi ada berjenis-jenis legenda dan percayaan. Dalam iconograpi Hindu, kundika sering dilihat sama Siwa atau Brahmana, dua dewa terbesar dalam agama Hindu. Dalam agama Buddha kundika diangkap sebagai salah satu wadah suci di antara delapan belas wadah suci dipunyai oleh biksunya.

Seluruh Asia Tenggara pernah menguna dan membuat wadah kendi: Thailand, Malaysia, Indonesia, dan seluruhnya. Walaupun begitu, Cina, suatu negara yang terpengaruh dalam dunia keramik, tak pernah menguna wadah kendi air minum. Cina cuma membuat kendi untuk ekspor. Sebenarnya pun, kendi ada pertama bahan keramik yang bikin di Cina hanya untuk perdagangan di luar negrinya. Cina, benar-benar, adalah suatu gayaan pada lapangan keramik di mana-mana, mungkin oleh karena itu, dan ahili perdaganganya, wadah kendi menjadi terpopular wadah air minum di seluruh Asia Tenggara.

Kendi muncul di mana-mana dengan macam-macam bentuknya. Biasanya kendi menyesuaikan pada gunanya yang diperlu oleh masyarakat yang dibikinnya. Pada umumnya kendi tak ada pegangannya tapi sering punya corot. Biasanya bentuk kendi yang bercorot satu adalah bentuk kendi yang paling sering dibuat di Indonesia. Ada kendi yang dibikin untuk wada air minum saja, juga ada kendi yang suci, yang dibikin buat upacara. Selain itu ada kendi yang bercorot-corot sebanyak lima corot, ada kendi tinggi, besar, pendek dan gemuk. Semua kendi ada pergunaan khas untuk daerahnya yang aslinya.

Sebelum sejarah, sebelum gerabah mulai diguna oleh manusia, buah labu sering dipakai sebagai wadah air minum. Sesudah manusia ketemu caranya bikin keramik, wadah keramik sering dimiripi buah labu. Di Indonesia kendi buah labu masih dibikin di beberapa tempat, yaitu Gayo, Aceh, dan beberapa dearah terpencil di Sulawesi yang masih bikin kendi berbentuk labu kuning.

Kendi maling, yang berasal dari propinsi Mayong, Pati, agak aneh. Kendi ini harus dipenuhi lewat bawahnya, tidak lewat atasnya. Bentuk ini ada corong tersembunyi, dan biasanya ada dua corot yang salah. Kendi maling hampir tak pernah gunanya di luar upacara. Selain Mayong, Pati, kendi parnah dibuat di Bali, dan di Lombok pula.

Kendi teraneh dibuat di Palembang bercorot sebanyak lima corot, dan semuanya bisa dipakai. Daerah Palembang pula menginovasikan bentuk ‘zoomorphic’. Kendi ini mirip binatang berjenis-jenis seperti burung dan cecak.

Jenis kendi paling luas ubahnya adalah kendi bulat. Kendi bulat dapat bentuk baik tinggi, dan pendek, maupun bulat sempurna, dan bulat salah. Kadang-kadan juga, kendi bulat berkaki tiga atau empat, tinggi atau pendek. Kebanyakan keramik dibuat di Indonesia masuk kelompok gerabah tampa gelasir dibanding porselin. Biarpun begitu, dalam masa Majapahit keramik perselin mulai didapat. Porselin ini tidak banyak berubah bentukan dari yang tradisional, dan mulai oleh dorongan Belanda.

Kendi sebagai wadah minum adalah suatu potong penting dalam kebudayan materi Indonesia. Sering dipenuhi dan dilatak didapan ruamahnya sebagai suatu persembahan pada orang pergian yang lewat rumah itu, dan membuktikan kesukaan menjamu yang tiadak terceraikan dari kebudayaan orang Indonesia. Masa kini pun persembahan sepertinya masih biasa dan sering didapat di mana-mana.

Pergunaan lainnya, kendi sering dipakai untuk pemberian obat minum pada orang yang tidak bisa duduk. Kadang-kadang kendi yang dibentuk butuh lelaki dipercayai dipunya gaya bakti. Kendi pula sering dipakai dalam upacara-upacara seperti perkawinan dan pelantikan. Air minum seger yang berisi dalam wadah kendi menyatakan pernikahan sempurna. Di Jawa barat kakinya pengatin laki-laki dicuci oleh pengantin perumpuan dengan air dari kendi suci. Setalahnya pengantin laki-laki dipecahkannya untuk melembangkan kesetiaan isterinya kepadanya. Diguna dalam pelantikan juga kendi yang penuh sering dipecahkan menyerminkan dipecahkan wadah anggur suatu tradisi barat.

Kendi susu bermode susu peremupan adalah suatu metafora pada susu ibu yang melindungi hidupan, dan menyatakan kepentingan tokoh ibu dalam kebudayan Indonesia. Dalam semacam tarian Jawa Tengah bernama Tari Bondan seorang gadis kecil menari di atas sewadah kendi dengan hati-hati supaya wadahnya tidak pecah. Tari ini melembangkan kepentingan asuhan lembut dari ibu yang masih punya anak kecil. Kemudiannya, kendi dapat fungsi sebagai kapal yang dapat mengankutan kenilaian budaya dari satu generasi ke generasi yang berikut, dan memperkuatkan tradisi.

Dalam adat propinsi Lampung ada upacara pernikahan bahwa pengantinnya membawa sebatang tombak diantaranya. Dari tombaknya bergantung sewadah kendi, tebu, padi, dan barang kelembangan lain. Dua-duanya membawa tombaknya dan semua barang ke sungainya. Disitu mereka mengisi kendinya dan memandikan satu dengan yang lain. Upacara ini dipercayai bahwa itu akan membawa ketenangan pada perkawinannya dalam tahun-tahun yang akan datang lewat air segar yang dapat dari kendinya. Juga ada kepercayaan bahwa air dari kendinya akan mempertinggi kesuburan pengantin perempuan. Kendi Pratolo terkenal untuk kemampuan kemempertinggian kesuburan. Cerita berikut adalah satu legenda mengenai gaya kesuburan mempertalikan pada kendi-kendi:

Seorang perempuan yang berjalan-jalan di hutan lihat sewadah kendi dibawa sebatang pohon besar. Sedangkannya dia haus, jadi dia minum dari kendinya. Airnya enak dan merasa seperti miniman para dewa. Perempuannya pulang, dan membawa kendinya, akan tepapi sebentar kemudian dia jadi hamil. Keluarganya tidak mempercayai bahwa dia cuma minum air dari kendi yang dibawanya, akibatnya mereka menyuruh dia pergi. Dia melahirkan satu anak laki-laki tergantang. Walaupun perempuannya hampir tidak menyelamatkan kelahirannya bayi tak kurang bergizi karena setiap kali ibunya minum dari kendinya susunya terisi dengan susu tergizi. (Kartiwa 13 trans. penulis)

Tambah itu ada banyak legenda yang mempertalikan kesuburan pada kendinya, dan Pratolo kendi meliputi Jawa sebagai kelembangan kesuburan khas suku. Kita dapat tahu bahwa kendi, dengan sejarah panjang sampai India kuna, dan dengan kepentingan dalam agama Hindu dan agama Buddha, adalah satu barang penting dalam kebudayaan Indonesia. Kendi dipakai di seluruh Asia Tenggara, sampai sejauh Arabia dimana kendi diadaptasikan untuk rokok secara ‘hooka’. Kelembangan kesuburan kuna yang mempertalikan pada kundika telah meliputi kebudayaan Indonesia dan membawakan pengertian tertinggi untuk barang sebiasa kendi yang dipakai sehari-hari. Kendi fungsi sebagai suatu yang penting dalam kebudayaan materi Indonesia, dan membantu menyatukan unsur antarbudaya di seluruh Nusantara Indonesia.

Bibliography

Adyatman, Sumarah Keramik Mutakhir Bergaya Antik, The Ceramic Society of Indonesia, 1983.
Adyatman, Sumarah Kendi, The Ceramic Society of Indonesia, 1987.
Kartiwa, Suwati, Dra. The Role of Pottery in Our Live, Museum Pusat, 1977.
Yudhoseputro, Wiyoso Album Keramik Tradisional, Ministry of Education and Culture, 1984.